Pandangan Umum Imam Syatibi on 06 Jun 2009 08:44 am
Kodoknya Yang Salah
“Kejar kodoknya.. Lari kemana dia..” sering sekali kalimat tersebut saya dengar dari kalimat para ibu untuk menghibur buah hatinya yang terjatuh. Dengan rona muka penasaran, si kecil mencoba menoleh kesana kemari mencari kodok yang dimaksudkan ibunya. Melihat kondisi tersebut, biasanya para ibu lega karena buah hatinya tidak lagi memikirkan rasa sakit yang diakibatkan karena terjatuh tadi.
Pendidikan yang buruk… saya yakin pembaca memahami mengapa saya menggunakan kalimat tersebut. Memang ibu yang menghibur dengan mencari kodok sudah berniat baik. Dia tidak ingin buah hatinya terjatuh, merasa sakit dan kemudian menangis. Akan tetapi ketika kalimat tersebut sering diucapkan tanpa ada pengajaran lebih lanjut, buah hati ibu tersebut akan menjadi anak yang tidak gentle dan bertanggung jawab.
Perhatikan, dalam kasus ini, sang ibu berusaha mencarikan kesalahan pada pihak lain atas kesalahan anaknya sendiri, dalam hal ini sang kodok. Sang anak baru dapat berjalan dan bisa saja kurang berhati-hati dalam melangkahkan kakinya. Juga ketika kita berkelompok dan berkumpul, ketika salah satu dari kita—maaf—buang angin, kebanyakan mengatakan bahwa ada kodok yang terjepit atau apapun kalimat yang menyangkal kenyataannya. Ini adalah suatu kondisi yang ironi. Betapa mudahnya kita mencari kambing hitam atas kesalahan kita sendiri…
Bagi saya, akan lebih baik apabila ketika sang buah hati terjatuh, kalimat yang diucapkan adalah,”Lain kali hati-hati ya, Nak..” dan bagaimana dengan anda?