Pandangan Umum Imam Syatibi on 29 May 2009 08:50 am
Biar Tuhan Yang Membalas
Mungkin kalimat di atas sering sekali anda ucapkan ketika mengungkapkan rasa terima kasih anda kepada orang lain, kadang kalimat tersebut juga untuk mengungkapkan rasa sakit anda yang tak terbalaskan kepada orang yang menyakiti anda. Mungkin juga kalimat tersebut juga anda dengarkan dari mulut orang lain untuk mengungkapkan kondisi serupa.
Ada hal yang perlu kita cermati dari kalimat tersebut. Ada indikasi pengakuan kelemahan kita untuk melakukan sesuatu hal sampai-sampai kita mengembalikan semuanya kepada Tuhan. Memang dalam kalimat ini kita mengaku sebagai seseorang yang lemah dan tidak dapat melakukan hal yang lebih. Ini adalah kodrat kita sebagai makhluk Tuhan yang lemah. Ketika kita mendapat kebaikan orang lain, bahkan misalnya kata terima kasih dan amplop kita pun tak sanggup mengucapkan rasa terima kasih kita, kalimat andalan yang paling sering kita ucapkan adalah kalimat di atas.
Bagi saya, kondisi ideal mengucapkan kalimat BIAR TUHAN YANG MEMBALAS, adalah ketika mengungkapkan rasa syukur kita, rasa suka cita kita ketika menemui kondisi tersebut. Itu adalah sebuah kalimat bijak yang menunjukkan rasa pengabdian kita kepada Tuhan, dan rasa penghargaan yang tertinggi dari kita kepada orang yang telah berbuat baik kepada kita.
Sekarang, kita perhatikan juga kalimat tersebut pada sebuah kejadian dimana kita sedang mengalami atau melihat ada yang sedang disakiti, difitnah, dihina, maupun segala macam kondisi tidak menyenangkan lainnya. BIARKAN TUHAN YANG MEMBALAS, kalimat tersebut diucapkan dengan penuh rasa sakit, dalam keadan terluka dan dalam harapan semoga Tuhan berkenan menuruti dendamnya. Dalam kondisi ini, kalimat tersebut malah menjadi sebuah indikasi betapa bobroknya akhlak dan moral pengucap kalimat. Memang Tuhan memerintahkan kita untuk berdoa pada-Nya dalam kondisi apapun. Akan tetapi, tidak pantas kita minta kepada Tuhan untuk mengabulkan niat jahat kita. Hal yang dapat kita lakukan pada keadaan ini adalah memaafkan orang yang telah menyakiti kita, dan melupakan semua kesalahan itu. Justru itu akan lebih menenteramkan hati kita… Percayalah…
on 29 May 2009 at 9:28 am # Hamid
wah, kalo ane masih malu minta-minta sama Tuhan, lha wong kewajiban saja, ane belum beres menuhin nya.
ane berharap ridho Nya saja lah…
on 29 May 2009 at 9:40 am # Imam Syatibi
@hamid
amiin..
on 29 May 2009 at 2:25 pm # d3ptzz
membaca komen @hamid jadi merasa tertampar.. sering minta-minta tapi belum beres menuhin kewajiban…
on 29 May 2009 at 2:30 pm # bernadsatriani
doa q terkabul ra yoh?
on 29 May 2009 at 4:22 pm # Imam Syatibi
@d3ptzz
Tuhan nggak pelit kok..
@ndhoyok
Wa dongamu opo? Ben ndang mari seka penyaket homo-mu po? Yo aku melu ngamini
on 30 May 2009 at 7:46 am # dianfi
HuHuHuHu…….
SediH……
Kalau Bilangnya…. “Kita Hanya Berserah Kepada Allah ” gmn Mas Mum
(T_T)v
on 30 May 2009 at 9:08 am # Imam Syatibi
@dianfi
pasrah wae mbak.. urip mung sekali og digawe susah.. be patient, think fast do it right :p
on 30 May 2009 at 2:47 pm # reallylife
memang susah mendoakan kebaikan bagi musuh kita
tapi setidaknya kita harus berusaha khan??
on 30 May 2009 at 8:30 pm # dianfi
@ imum : thats not easy (T_T)
on 31 May 2009 at 8:05 am # fith
spakat….
*wkkwkwkw….iki upu to yo…
gur ngomong spakat thok..*
on 31 May 2009 at 8:07 am # fith
spakaT..
*wkwkwkkw….iki upu to yoo..gur ngomong spakaT thok
*
on 31 May 2009 at 12:07 pm # Imam Syatibi
@reallylife
iya bang… kondisi ideal semacam itu hanya dapat dilakukan sedikit orang
@dianfi
kamu belum temukan batasan dalam dirimu, coba dulu, nanti menyerahnya kalo sudah gak bisa napas lagi… (hiperbolanya gitu :p)
on 01 Jun 2009 at 3:35 am # ripbro
setelah saya baca2, dan saya pikir2 , ternyata ada betul2 nya juga ..
iyo to ..
=D
regards .