Anang, apa kabarmu hari ini? Semoga masih baik-baik saja seperti yang kamu kabarkan padaku via sms beberapa minggu yang lalu. Sebelum aku bicara banyak padamu, aku hanya ingin mengingatkan padamu bahwa aku adalah salah satu temanmu, entah dalam urutan mana dalam daftar prioritasmu, namun yang jelas, kita sudah menghabiskan banyak waktu bersama.

Anang, tahukah kamu? Dulu, ketika aku sedang sibuk-sibuknya, tiba-tiba kau meneleponku dan mengatakan bahwa aku harus segera menyusulmu di sebuah tempat makan di Wirobrajan. Segera aku berangkat ke sana. Kita habiskan waktu bersama teman-teman yang lain. Saat itu yang terbayang dalam pikiranku adalah saat-saat kebahagiaan semacam ini adalah sesuatu yang layak kita nikmati.

Anang, aku ingin kamu mengingat ini, ketika kamu sedang bermain bola basket pada sore hari, di lapangan basket, sendirian, dan aku menemanimu layaknya seorang kekasih yang dengan setia menunggu, kamu banyak bercerita tentang kisah asmaramu. Kamu ceritakan padaku bahwa semua yang kamu alami masih terasa berat, dan kamu butuh tempat untuk bertanya. Aku datang padamu, Nang. Sebagai teman, teman yang baik yang bersedia mendengarkan semua keluh kesahmu. Kamu masih ingat, kan? Semoga masih, Nang. Aku tidak ingin meralat kalimat ini, sama seperti aku meralat kalimat-kalimatku dengan Lloyd.

Anang, ketika aku menulis ini, ada sedikit hal yang merisaukan hatiku. Bukan tentang waktu-waktu perpisahan yang sudah dekat. Bukan tentang rasa takutku yang tidak akan pernah melihatmu lagi dengan pakaian putih abu-abumu. Aku merisaukanmu secara pribadi.

Dulu aku melihatmu. Di sebuah lapangan basket, sorak sorai terdengar bergemuruh, aku melihatmu berlari kencang dan penuh semangat seolah-olah tak ada rasa lelah dalam dirimu. Aku kenal semangat semacam itu, sebuah semangat yang mengatakan bahwa kamu akan memenangi pertandingan ini, kamu akan menjadi bintang dalam pertandingan ini. Aku melihatmu, Nang. Saat itu semua mata tertuju padamu, bukan karena kamu manjadi bintang, melainkan kamu terjatuh dan tanganmu berada di posisi yang salah. Aku terkejut, dimanakah kesalahan itu, aku belum melihat batasan dalam dirimu, aku masih bisa melihatmu berlari, aku masih bisa melihatmu berteriak, namun mengapa kau terhenti…

Juga ketika kamu mengeluh tentang rasa sakit dalam sendi kakimu, kamu terkilir lagi. Berulang kali aku mendengarkan keluhan tentang kakimu. Akhirnya juga, saat itu aku temukan batasan dalam dirimu, semangatmu memang besar dan tak terbendung. Namun tubuhmu terlalu rapuh untuk melakukan semuanya. Sekali saja kamu melakukan kesalahan, kau sakiti dirimu sendiri.

Anang, kamu tahu apa maksudmu semua ini, kan? Aku menulis ini karena sudah sedikit sekali waktu kita untuk berkomunikasi. Bukan karena kita tidak menginginkannya, namun karena memang kesibukan kita yang menyebabkannya. Akhir-akhir ini kamu juga sudah dapat mengambil keputusanmu sendiri, meski tanpa bertanya padaku, aku bangga padamu, Nang. Kamu sudah dapat menentukan jalanmu sendiri, memilih yang terbaik untuk dirimu sendiri. Juga ketika kamu meminta maaf padaku karena sebuah kesalahanmu yang seolah-olah membiarkanku melakukan semuanya sendirian, aku hanya terdiam. Aku marah. Aku marah karena setelah sekian lama ini, belum juga kamu bisa membedakan mana yang harus kamu pilih, antara kebenaran dan kesalahan. Aku marah kerena aku tidak ingin kamu kehilangan jalanmu….

Anang, melalui tulisan ini, aku ingin menyampaikan padamu, bahwa kamu adalah salah satu dari sedikit orang yang pernah mendapat perhatianku. Aku pernah mencurahkan banyak waktuku untukmu, karena aku peduli pada orang yang sepertimu. Kamu sangat bingung dan hampir tersesat saat itu. Sekarang, seandainya kamu sedang merasa lelah melihat semuanya, beristirahatlah barang sejenak, namun jika  kamu masih bersemangat, aku ingin melihatmu berlari…