Dengar kawan-kawan… Saya menulis ini ketika hari-hari saya mulai tidak nyaman mendengarkan keluhan dari beberapa kawan kalian yang lain. Entah itu—hanya rumor–kinerja ayah kalian yang tidak menyenangkan, entah itu ada onak dalam daging yang meresahkan kalian, serta ayah ibu kalian yang lain yang seolah-olah tidak memperdulikan kalian lagi… Baru beberapa saat yang lalu, ada satu sapuan rasa sakit dalam hati saya.

Ada hal-hal yang saya pikirkan, selama ini, saya memang bersedia menemani kalian, bukan untuk mendapatkan sebuah kalimat “wow, Syatibi sang pendengar yang baik” atau tendensi lain yang serupa, melainkan ada beberapa alasan saya melakukannya.

Dulu, saya adalah salah seorang siswa SMA 7 yang berantakan, tidak taat pada peraturan sekolah dan kadang ngeyel dengan ayah dan ibu di sekolah. Saya adalah salah satu siswa bermasalah, karena saat itu, saya sedang mencari kompensasi dari semua masalah saya. Kawan, saat itu saya melewati semuanya sendirian, antara rasa patah hati, gejolak jiwa muda yang menyusahkan, yang membuat saya tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan ingin jadi apa nantinya… Benar-benar saya melewatinya sendirian sampai akhirnya saya bertemu dengan beberapa orang berharga dalam hidup saya, Ibu Baniyah yang saya hormati dan saya sayangi, serta Muhammad Hamid yang selalu memberi saya support serta semua ayah dan ibu di SMA 7—terima kasih buat mereka–.Dalam bimbingan mereka, hati saya lebih nyaman dan merasa berharga di SMA 7… Sekarang, kalian lihat saya sedang bersama kalian, dan saya hanya ingin, kalian tidak sendirian dalam menghadapi semuanya. Saya tidak ingin kalian seperti saya di masa lalu, sendirian dan tidak tahu apa yang harus dilakukan…

Ini bukanlah sebuah kalimat kesombongan saya, melainkan ini adalah kalimat pengakuan saya yang lemah. Bukan berarti saya ingin mencampuri masalah keluarga kalian. Dalam sebuah keluarga, semua diharapkan dapat berjalan sebagaimana mestinya dan sesuai kapasitasnya masing-masing. Ayah yang bekerja keras untuk menghidupi keluarga, Ibu yang mengurusi rumah tangga, PRT yang ikut membantu ibu, dan kalian, tugas kalian adalah belajar dan berkreasi. Ketika kalian merasa bahwa ayah dan ibu sedang bertengkar, kalian harus mencoba memahami kesulitan mereka, bukannya berusaha memperumit keadaan dengan mencoba untuk menyakiti orang tua kalian, atau melarikan diri dari rumah atau merusak perabot rumah atau tindakan lain yang merugikan keluarga kalian sendiri.

Cobalah untuk memahami kesulitan ayah kalian, cobalah usap air mata ibu kalian meskipun kalian sedang terluka sekalipun. Bertukar-pikiranlah dengan mereka, katakan bahwa kalian masih ingin disayang, masih ingin mendapatkan perhatian dari ayah ibu kalian, dan katakan bahwa kalian juga sedang mengalami masa-masa sulit. Mungkin ada saatnya kalian harus mencoba berbagi dan mencoba bangkit dari masa sulit ini dengan semua anggota keluarga kalian yang lain. Percayalah bahwa ayah dan ibu juga sedang mencoba berbuat yang terbaik bagi mereka sendiri dan tentunya bagi kalian serta mereka juga tidak pernah secuilpun memiliki niat untuk membuat kalian menangis. Tunjukkan bahwa kalian adalah orang terpelajar dan bermartabat, dengan membicarakan semua kesulitan ini dengan kepala dingin.

Ini adalah permintaan maaf saya, saya tahu kalian tidak akan mengerti hal-hal semacam ini jika saya sampaikan langsung kepada kalian. Saya khawatir, saya sudah membayangkan kalian sebagai sosok yang kasar dan tidak terarah. Namuh sekarang, saya sedang memandangi kalian, terbaring letih pada sebuah onggokan jerami yang kotor pada sebuah sudut rumah kalian yang penuh sampah. Tidak tega saya melihat kondisi ironi semacam itu. Saya hanya ingin kalian beristirahat di tempat yang nyaman serta dapat menikmati segarnya udara yang tidak pengap. Maafkan saya kawan-kawan, saya sudah meminta terlalu banyak, sungguh terlalu banyak, maafkan saya…