Cerita Saya and Surat-Surat Imam Syatibi on 21 May 2009 08:05 am
Surat Untuk Kawan-Kawan di SMA N 7 Yogyakarta
Dengar kawan-kawan… Saya menulis ini ketika hari-hari saya mulai tidak nyaman mendengarkan keluhan dari beberapa kawan kalian yang lain. Entah itu—hanya rumor–kinerja ayah kalian yang tidak menyenangkan, entah itu ada onak dalam daging yang meresahkan kalian, serta ayah ibu kalian yang lain yang seolah-olah tidak memperdulikan kalian lagi… Baru beberapa saat yang lalu, ada satu sapuan rasa sakit dalam hati saya.
Ada hal-hal yang saya pikirkan, selama ini, saya memang bersedia menemani kalian, bukan untuk mendapatkan sebuah kalimat “wow, Syatibi sang pendengar yang baik” atau tendensi lain yang serupa, melainkan ada beberapa alasan saya melakukannya.
Dulu, saya adalah salah seorang siswa SMA 7 yang berantakan, tidak taat pada peraturan sekolah dan kadang ngeyel dengan ayah dan ibu di sekolah. Saya adalah salah satu siswa bermasalah, karena saat itu, saya sedang mencari kompensasi dari semua masalah saya. Kawan, saat itu saya melewati semuanya sendirian, antara rasa patah hati, gejolak jiwa muda yang menyusahkan, yang membuat saya tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan ingin jadi apa nantinya… Benar-benar saya melewatinya sendirian sampai akhirnya saya bertemu dengan beberapa orang berharga dalam hidup saya, Ibu Baniyah yang saya hormati dan saya sayangi, serta Muhammad Hamid yang selalu memberi saya support serta semua ayah dan ibu di SMA 7—terima kasih buat mereka–.Dalam bimbingan mereka, hati saya lebih nyaman dan merasa berharga di SMA 7… Sekarang, kalian lihat saya sedang bersama kalian, dan saya hanya ingin, kalian tidak sendirian dalam menghadapi semuanya. Saya tidak ingin kalian seperti saya di masa lalu, sendirian dan tidak tahu apa yang harus dilakukan…
Ini bukanlah sebuah kalimat kesombongan saya, melainkan ini adalah kalimat pengakuan saya yang lemah. Bukan berarti saya ingin mencampuri masalah keluarga kalian. Dalam sebuah keluarga, semua diharapkan dapat berjalan sebagaimana mestinya dan sesuai kapasitasnya masing-masing. Ayah yang bekerja keras untuk menghidupi keluarga, Ibu yang mengurusi rumah tangga, PRT yang ikut membantu ibu, dan kalian, tugas kalian adalah belajar dan berkreasi. Ketika kalian merasa bahwa ayah dan ibu sedang bertengkar, kalian harus mencoba memahami kesulitan mereka, bukannya berusaha memperumit keadaan dengan mencoba untuk menyakiti orang tua kalian, atau melarikan diri dari rumah atau merusak perabot rumah atau tindakan lain yang merugikan keluarga kalian sendiri.
Cobalah untuk memahami kesulitan ayah kalian, cobalah usap air mata ibu kalian meskipun kalian sedang terluka sekalipun. Bertukar-pikiranlah dengan mereka, katakan bahwa kalian masih ingin disayang, masih ingin mendapatkan perhatian dari ayah ibu kalian, dan katakan bahwa kalian juga sedang mengalami masa-masa sulit. Mungkin ada saatnya kalian harus mencoba berbagi dan mencoba bangkit dari masa sulit ini dengan semua anggota keluarga kalian yang lain. Percayalah bahwa ayah dan ibu juga sedang mencoba berbuat yang terbaik bagi mereka sendiri dan tentunya bagi kalian serta mereka juga tidak pernah secuilpun memiliki niat untuk membuat kalian menangis. Tunjukkan bahwa kalian adalah orang terpelajar dan bermartabat, dengan membicarakan semua kesulitan ini dengan kepala dingin.
Ini adalah permintaan maaf saya, saya tahu kalian tidak akan mengerti hal-hal semacam ini jika saya sampaikan langsung kepada kalian. Saya khawatir, saya sudah membayangkan kalian sebagai sosok yang kasar dan tidak terarah. Namuh sekarang, saya sedang memandangi kalian, terbaring letih pada sebuah onggokan jerami yang kotor pada sebuah sudut rumah kalian yang penuh sampah. Tidak tega saya melihat kondisi ironi semacam itu. Saya hanya ingin kalian beristirahat di tempat yang nyaman serta dapat menikmati segarnya udara yang tidak pengap. Maafkan saya kawan-kawan, saya sudah meminta terlalu banyak, sungguh terlalu banyak, maafkan saya…
on 21 May 2009 at 9:06 am # amOi! is subcultural
ini teh buat semua anak SMA7 om imum?
on 21 May 2009 at 9:12 am # Imam Syatibi
buat bagi yang merasa tidak nyaman saja dengan kondisi sekarang…
on 21 May 2009 at 11:07 am # Musa
@ Imam : Knapa judulnya ngga “Surat Untuk Kawan-Kawan yang merasa tidak nyaman saja dengan kondisi sekarang…” ==> Just suggestion lho mbah.
Kalo ada surat utk saya, PM NETT ya (Wuduh, kayak FJB aja…)
on 21 May 2009 at 11:25 am # ripbro
wah ,
aq baca na mpe 2x lho ..
keren ra ?
=D
on 21 May 2009 at 11:27 am # Hamid
ripbro goyang batakooo!
on 21 May 2009 at 11:29 am # Imam Syatibi
@musa
Melihat menggunakan mata, mendengar menggunakan telinga, merasakan menggunakan hati.. Gunakan semua indramu, perhatikan kondisi psikologis smaven. Be smart and you will discover the truth..
on 21 May 2009 at 11:51 am # Musa
@ Imam Syatibi : Wah, besok bikin MSGW (Mario Syatibi Golden Ways) aja mbah, bakal laris deh…
on 21 May 2009 at 1:25 pm # bernadsatriani
Sebagai sesama alumni, saia pun tidak tau apa yg harus dilakukan.
Semua terserah dari diri adek angkatan saja.
on 21 May 2009 at 4:31 pm # ncob
Nek mas Imum sido nduwe MSGW, mas Musa dadi presenter-e yo…
Ketoke klop kuwi
Buat cah2 seveners: Hayyooo…perhatikan pesan mbah imum kalian…
on 21 May 2009 at 5:14 pm # Musa
@ ncob : weh, fee-nya berapa ya per jam? :p
on 21 May 2009 at 5:48 pm # dianfi
Ikutan comment ya mas imum….
Sebenarnya sih kalau seseorang menceritakan sebuah masalah yang dihadapinya kita sebagai pendengar hanya bisa melakukan suatu tindakan sesuai dengan permintaan dari si pencerita.
Ada dua tipe
1. Orang yang ingin di beri pendapat, dan saran atas permaslahan yang dia hadapi.
2. Tipe orang yang hanya ingin bercerita masalhanya tapi tidak ingin di beri saran atas permasalahannya.
nah tipe orang ke dua itu, biarpun di beri saran sebanyak apa pun tidak akan di dengarkan karena tujuan dia bercerita hanya untuk di dengar bukan untuk di komentari
Untuk tipe yang kedua cara kita memberi saran dengan membimbing mereka tanpa mereka sadari.
*MaaF Kalau OOT*
b(^_^)
on 21 May 2009 at 6:09 pm # Imam Syatibi
@dianfi
G OOT og. Saya jg inget kata2 bocahmiring, kita bantu orang yang mau dibantu saja..
on 21 May 2009 at 10:44 pm # Imam Syatibi
@musa
Makasih atas pengakuannya.
@ncob
kalo ceramah, saya masih bisa megang mic sendiri koq..
on 21 May 2009 at 11:15 pm # cod
sep sep lah
on 22 May 2009 at 12:30 am # bernadsatriani
Klo pada ga bisa dikasih saran dan di arahkan yg baek,
ngapain jg ane pikirin
Lha wong mikir diri sendiri aja masih kesusahan.
Kq pake repot2 mikir orang laen yg jelas2 gag mau mendengarkan qt..
Note : itu menurut pribadi ane
Ra sah protes!
on 22 May 2009 at 1:28 am # Khan
ikut prihatin mas dap
on 22 May 2009 at 7:02 am # romance
tangi turuk bar mejuh ijeh lemez, elah mah netes eluh..
wah bener le ngom0ng kentruk yen tulisan iki marai pen nanges.
hahhahaha wak kiro q wes raiso nanges..ki mah ra uwes2..wak sumpel nggo malb0r wae lah irungku.
buasu esuk2 mah wes em0.. d(‘_\\\b
on 22 May 2009 at 12:45 pm # bernadsatriani
nduwur q homo
on 23 May 2009 at 6:46 pm # U know who
ak juga baca 2x luwww,,
marai nangess..
tapi bikin ak jadi tambah semangat buat membahagiakan ortu..
dan ga akan mengecewakan ortu dgn kegiatan yang ga berguna, seperti foya2,.
ak jadi membayangkan, jika ak besok uda jadi ortu, dan anakku ternyata di belakang ortu nya, melekukan hal yang negatif , alangkah sedih hati ini =( hikss
intinya >> ak ga mao berbuat yang merugikan drikuw dan sesuatu yang tak ada gunanya bagi semuanya,, karena ak slalu berpikir, klo sekarang kita bersenang2, maka tua bakal susah..dan klo kita sekarang berbuat buruk, maka jangan salahkan klo besik punya anak yang sifat nya sama =)
on 23 May 2009 at 9:10 pm # bernadsatriani
Wis ra sah do di pikir jero2..
:p
on 27 May 2009 at 2:47 am # saya tumpul
tulisanmu marai merinding…
jd kangen ibuku je..
on 27 May 2009 at 2:48 am # saya tumpul
tp aku dong kr maksudmu…
nek aku tetep sayang ro guru” ku..
nek wes lulus cen lg kroso kok…
on 27 May 2009 at 10:08 pm # Sempak
U rock