Katakata Imam Syatibi on 15 May 2009 07:33 am
Jadilah Teman Yang Baik
“Beberapa hari yang lalu saya berbincang-bincang dengan bocahmiring dan bernadsatriani. Ada hal kecil yang kami bahas bersama teman-teman yang lain. Sebut saja Mr. Blackdot, dia adalah anak yang cerdas, memahami dunia maya hampir secara utuh, namun ada satu hal yang dia lupakan, tentang sosial diri dan berbaur secara wajar dengan teman sebayanya.”
Secara wajar, saya tidak memilih kedua kata tersebut secara sembarangan. Ada hal yang saya jadikan alasan mengapa saya menggunakannya. Suatu ketika, Mr. Blackdot sedang berbincang dengan beberapa orang temannya, dalam situasi canda, beberapa anak membincangkan betapa kaya rayanya Oprah, setiap orang yang meminta sesuatu padanya, pasti dia berikan. Dalam suasana segar itu, setelah puas memuji Oprah, Mr. Blackdot menyela dan mengatakan bahwa Google-lah yang paling kaya, dalam waktu beberapa jam saja bisa menghasilkan berapa banyak Dollar. Mr. Blackdot menjelaskan semuanya secara bla.. bla.. bla.. Terlolong-lolong anak-anak SMA yang sedang bercanda itu. Kemudian dengan gaya bla.. bla.. bla.. lagi, Mr. Blackdot bercerita tentang dunia maya yang bla.. bla.. bla.. pula. Tambah berantakan situasi yang terjadi. Pembaca dapat membayangkan, suasana yang segar tiba-tiba berubah mencekam—lebaynya—hanya gara-gara dimasuki satu orang yang tidak paham konteks pembicaraan.”
Saya informasikan juga, bahwa kehidupan Mr. Blackdot adalah kehidupan yang sempit, dia hanya punya dunia maya yang tidak jelas ada di mana. Gaya bicaranya—secara pribadi—sengak dan tidak menyenangkan, dia berpikir bahwa kebenaran ada pada dirinya dan dalam kamusnya, tidak ada kata maaf meskipun dia bersalah sekalipun. Bisa jadi, postingan saya ini nantinya juga akan mendapat sanggahan dari Mr. Blackdot—seandainya dia bodoh–
Akan tetapi, bukan itu yang ingin saya sampaikan di sini. Saya hanya ingin pembaca tidak mengalami apa yang dialami teman-teman Mr. Blackdot, bingung dalam konteks pembicaraan yang tidak sejalan. Dalam kasus di atas, sebenarnya yang terjadi adalah konflik antusiasme, sekelompok anak membicarakan hal yang berbeda dengan satu anak yang lain. Satu orang ini, saya yakin agak kesulitan mencari kawan yang bisa mengikuti pemahamannya karena dia berpikir dengan logika dunianya dan dia sendiri tidak fleksibel dalam pergaulan.
Sebenarnya dalam mencari kawan, ada hal mudah yang dapat kita lakukan, sapalah dia dengan antusias dan bersemangat. Taruhlah ketika ada orang yang menelepon dan mengatakan halo, gunakan psikologi yang sama, katakan juga halo dan pastikan bahwa anda benar-benar tertarik dengan apa yang dia bicarakan. Banyak perusahaan yang melatih operatornya hanya untuk berbicara dengan penuh rasa antusiasme dan menyiratkan minat kepada penelepon. Tentu saja hal ini dilakukan dengan tujuan supaya orang yang berkepentingan dengan perusahaan dapat merasa dihargai dalam perusahaan itu.
Mungkin ada pembaca yang bertanya, mengapa kita harus antusias dengan hal yang—bisa jadi—kita tidak tertarik padanya? Memang dalam hidup seperti itu, ketika komunikasi dalam sebuah hubungan, ada hal-hal yang harus diperhatikan, yaitu minat kita secara berkesinambungan, bukan mempertahankan ketidaksukaan kita kepada satu materi pembicaraan. Seandainya anda punya sahabat, dan ada satu meteri pembicaraan yang tidak anda sukai darinya, maka dengarkanlah dan perhatikan baik-baik, beri tanggapan dan katakana padanya,”Aku mendengarkanmu…”
Pastikan, bahwa anda memiliki ketertarikan dengan materi pembicaraan kawan bicara anda, beri tanggapan, beri wawasan dan berikan solusi jika seandainya dia memang memerlukannya, saya yakin, dari ketulusan anda itu, anda akan menjadi orang yang memiliki banyak relasi….
on 16 May 2009 at 12:43 am # akhyari zudhi
seribu teman kurang, satu musuh terlalu banyak..
on 16 May 2009 at 10:17 am # bernadsatriani
Pancen bocah nek kokean bergaul karo si b** yo ngunu kui
on 17 May 2009 at 8:29 am # Imam Syatibi
@bernadsatriani
b**u
on 18 May 2009 at 10:45 pm # bernadsatriani
b**u**
:p