Back Up Saya Hilang

Beberapa waktu yang lalu karena satu dua hal, blog saya menghilang dari peredaran. Mas Bocahmiring yang tau detilnya. Akhirnya sekarang saya bisa posting lagi disini, meskipun dengan back-up-an tanggal 06 Juni 2009. Gak papa lah…

Kodoknya Yang Salah

“Kejar kodoknya.. Lari kemana dia..” sering sekali kalimat tersebut saya dengar dari kalimat para ibu untuk menghibur buah hatinya yang terjatuh. Dengan rona muka penasaran, si kecil mencoba menoleh kesana kemari mencari kodok yang dimaksudkan ibunya. Melihat kondisi tersebut, biasanya para ibu lega karena buah hatinya tidak lagi memikirkan rasa sakit yang diakibatkan karena terjatuh tadi.

Pendidikan yang buruk… saya yakin pembaca memahami mengapa saya menggunakan kalimat tersebut. Memang ibu yang menghibur dengan mencari kodok sudah berniat baik. Dia tidak ingin buah hatinya terjatuh, merasa sakit dan kemudian menangis. Akan tetapi ketika kalimat tersebut sering diucapkan tanpa ada pengajaran lebih lanjut, buah hati ibu tersebut akan menjadi anak yang tidak gentle dan bertanggung jawab.

Perhatikan, dalam kasus ini, sang ibu berusaha mencarikan kesalahan pada pihak lain atas kesalahan anaknya sendiri, dalam hal ini sang kodok. Sang anak baru dapat berjalan dan bisa saja kurang berhati-hati dalam melangkahkan kakinya. Juga ketika kita berkelompok dan berkumpul, ketika salah satu dari kita—maaf—buang angin, kebanyakan mengatakan bahwa ada kodok yang terjepit atau apapun kalimat yang menyangkal kenyataannya. Ini adalah suatu kondisi yang ironi. Betapa mudahnya kita mencari kambing hitam atas kesalahan kita sendiri…

Bagi saya, akan lebih baik apabila ketika sang buah hati terjatuh, kalimat yang diucapkan adalah,”Lain kali hati-hati ya, Nak..” dan bagaimana dengan anda?

Biar Tuhan Yang Membalas

Mungkin kalimat di atas sering sekali anda ucapkan ketika mengungkapkan rasa terima kasih anda kepada orang lain, kadang kalimat tersebut juga untuk mengungkapkan rasa sakit anda yang tak terbalaskan kepada orang yang menyakiti anda. Mungkin juga kalimat tersebut juga anda dengarkan dari mulut orang lain untuk mengungkapkan kondisi serupa.

Ada hal yang perlu kita cermati dari kalimat tersebut. Ada indikasi pengakuan kelemahan kita untuk melakukan sesuatu hal sampai-sampai kita mengembalikan semuanya kepada Tuhan. Memang dalam kalimat ini kita mengaku sebagai seseorang yang lemah dan tidak dapat melakukan hal yang lebih. Ini adalah kodrat kita sebagai makhluk Tuhan yang lemah. Ketika kita mendapat kebaikan orang lain, bahkan misalnya kata terima kasih dan amplop kita pun tak sanggup mengucapkan rasa terima kasih kita, kalimat andalan yang paling sering kita ucapkan adalah kalimat di atas.

Bagi saya, kondisi ideal mengucapkan kalimat BIAR TUHAN YANG MEMBALAS, adalah ketika mengungkapkan rasa syukur kita, rasa suka cita kita ketika menemui kondisi tersebut. Itu adalah sebuah kalimat bijak yang menunjukkan rasa pengabdian kita kepada Tuhan, dan rasa penghargaan yang tertinggi dari kita kepada orang yang telah berbuat baik kepada kita.

Sekarang, kita perhatikan juga kalimat tersebut pada sebuah kejadian dimana kita sedang mengalami atau melihat ada yang sedang disakiti, difitnah, dihina, maupun segala macam kondisi tidak menyenangkan lainnya. BIARKAN TUHAN YANG MEMBALAS, kalimat tersebut diucapkan dengan penuh rasa sakit, dalam keadan terluka dan dalam harapan semoga Tuhan berkenan menuruti dendamnya. Dalam kondisi ini, kalimat tersebut malah menjadi sebuah indikasi betapa bobroknya akhlak dan moral pengucap kalimat. Memang Tuhan memerintahkan kita untuk berdoa pada-Nya dalam kondisi apapun. Akan tetapi, tidak pantas kita minta kepada Tuhan untuk mengabulkan niat jahat kita. Hal yang dapat kita lakukan pada keadaan ini adalah memaafkan orang yang telah menyakiti kita, dan melupakan semua kesalahan itu. Justru itu akan lebih menenteramkan hati kita… Percayalah…

Surat Untuk Anang Dewantara

Anang, apa kabarmu hari ini? Semoga masih baik-baik saja seperti yang kamu kabarkan padaku via sms beberapa minggu yang lalu. Sebelum aku bicara banyak padamu, aku hanya ingin mengingatkan padamu bahwa aku adalah salah satu temanmu, entah dalam urutan mana dalam daftar prioritasmu, namun yang jelas, kita sudah menghabiskan banyak waktu bersama.

Anang, tahukah kamu? Dulu, ketika aku sedang sibuk-sibuknya, tiba-tiba kau meneleponku dan mengatakan bahwa aku harus segera menyusulmu di sebuah tempat makan di Wirobrajan. Segera aku berangkat ke sana. Kita habiskan waktu bersama teman-teman yang lain. Saat itu yang terbayang dalam pikiranku adalah saat-saat kebahagiaan semacam ini adalah sesuatu yang layak kita nikmati.

Anang, aku ingin kamu mengingat ini, ketika kamu sedang bermain bola basket pada sore hari, di lapangan basket, sendirian, dan aku menemanimu layaknya seorang kekasih yang dengan setia menunggu, kamu banyak bercerita tentang kisah asmaramu. Kamu ceritakan padaku bahwa semua yang kamu alami masih terasa berat, dan kamu butuh tempat untuk bertanya. Aku datang padamu, Nang. Sebagai teman, teman yang baik yang bersedia mendengarkan semua keluh kesahmu. Kamu masih ingat, kan? Semoga masih, Nang. Aku tidak ingin meralat kalimat ini, sama seperti aku meralat kalimat-kalimatku dengan Lloyd.

Anang, ketika aku menulis ini, ada sedikit hal yang merisaukan hatiku. Bukan tentang waktu-waktu perpisahan yang sudah dekat. Bukan tentang rasa takutku yang tidak akan pernah melihatmu lagi dengan pakaian putih abu-abumu. Aku merisaukanmu secara pribadi.

Dulu aku melihatmu. Di sebuah lapangan basket, sorak sorai terdengar bergemuruh, aku melihatmu berlari kencang dan penuh semangat seolah-olah tak ada rasa lelah dalam dirimu. Aku kenal semangat semacam itu, sebuah semangat yang mengatakan bahwa kamu akan memenangi pertandingan ini, kamu akan menjadi bintang dalam pertandingan ini. Aku melihatmu, Nang. Saat itu semua mata tertuju padamu, bukan karena kamu manjadi bintang, melainkan kamu terjatuh dan tanganmu berada di posisi yang salah. Aku terkejut, dimanakah kesalahan itu, aku belum melihat batasan dalam dirimu, aku masih bisa melihatmu berlari, aku masih bisa melihatmu berteriak, namun mengapa kau terhenti…

Juga ketika kamu mengeluh tentang rasa sakit dalam sendi kakimu, kamu terkilir lagi. Berulang kali aku mendengarkan keluhan tentang kakimu. Akhirnya juga, saat itu aku temukan batasan dalam dirimu, semangatmu memang besar dan tak terbendung. Namun tubuhmu terlalu rapuh untuk melakukan semuanya. Sekali saja kamu melakukan kesalahan, kau sakiti dirimu sendiri.

Anang, kamu tahu apa maksudmu semua ini, kan? Aku menulis ini karena sudah sedikit sekali waktu kita untuk berkomunikasi. Bukan karena kita tidak menginginkannya, namun karena memang kesibukan kita yang menyebabkannya. Akhir-akhir ini kamu juga sudah dapat mengambil keputusanmu sendiri, meski tanpa bertanya padaku, aku bangga padamu, Nang. Kamu sudah dapat menentukan jalanmu sendiri, memilih yang terbaik untuk dirimu sendiri. Juga ketika kamu meminta maaf padaku karena sebuah kesalahanmu yang seolah-olah membiarkanku melakukan semuanya sendirian, aku hanya terdiam. Aku marah. Aku marah karena setelah sekian lama ini, belum juga kamu bisa membedakan mana yang harus kamu pilih, antara kebenaran dan kesalahan. Aku marah kerena aku tidak ingin kamu kehilangan jalanmu….

Anang, melalui tulisan ini, aku ingin menyampaikan padamu, bahwa kamu adalah salah satu dari sedikit orang yang pernah mendapat perhatianku. Aku pernah mencurahkan banyak waktuku untukmu, karena aku peduli pada orang yang sepertimu. Kamu sangat bingung dan hampir tersesat saat itu. Sekarang, seandainya kamu sedang merasa lelah melihat semuanya, beristirahatlah barang sejenak, namun jika  kamu masih bersemangat, aku ingin melihatmu berlari…

Sekilas Tentang Analisis SWOT

Analisis SWOT, merupakan sebuah singkatan yang tidak asing bagi para pengambil keputusan. SWOT merupakan salah satu acuan dalam mengambil keputusan secara psikologis selain proyeksi bisnis secara matematis. SWOT adalah singkatan dari Strength, Weakness, Opportunity, dan Threat (kekuatan, kelemahan, kesempatan, dan ancaman). Jadi analisis SWOT merupakan salah satu metode analisis yang dapat dilakukan dalam teori pengambilan keputusan.

Strength, dalam bahasa Indonesia sama artinya dengan kekuatan. Untuk melakukan sesuatu, kita seharusnya dapat mengukur kekuatan kita sendiri, baik secara material maupun non-material. Seberapa tangguh anda dapat bertarung di luar sana dan berkompetisi secara sehat sesuai dengan apa yang anda miliki. Di samping itu, ketika kita berbicara tentang kekuatan, kita juga berbicara tentang batas-batas dari kekuatan kita sendiri. Perhatikan kemampuan anda, seberapa jauh anda dapat berbuat. Jika memang anda bukan tipe petarung, jangan pernah sekalipun mencoba untuk melewati batas kekuatan itu.

Weakness, dalam bahasa Indonesia sama artinya dengan kelemahan. Perhatikan bahwa selain sebuah kekuatan yang besar, daya tempur yang tinggi, anda juga memiliki kelemahan. Kebanyakan kelemahan itu justru malah diketahui secara detil oleh para kompetitor anda. Pelajarilah kelemahan anda, perbaikilah, akan tetapi jika itu adalah sebuah kelemahan yang bawaan dari lahir—gawan bayi–, cari potensi lain yang dapat menanggulangi kelemahan anda tersebut.

Opportunity, dalam bahasa Indonesia sama artinya dengan kesempatan, peluang. Sebagai seorang yang memiliki pemikiran yang maju ke depan, anda diharapkan dapat melihat peluang yang ada kemudian menjadikan itu sebagai lahan anda. Peluang kadang sangat jarang disadari karena biasanya, ketika seseorang telah terfokus kepada suatu hal, sulit sekali melihat kondisi sekitar.

Threat, dalam bahasa Indonesia sama artinya dengan ancaman. Ancaman merupakan salah satu hal yang harus diperhitungkan sebelum mengambil keputusan. Biasanya ancaman datang dari luar. Bukan berarti ancaman selalu melulu tentang usaha jahat kompetitor untuk menjatuhkan anda, ancaman merupakan sesuatu yang dapat membuat anda kesulitan dalam perjalanan setelah pengambilan keputusan.

Poin-poin di atas sangat sering dilakukan sebelum keputusan diambil. Entah menyadarinya atau tidak, entah ditulis dalam notes kecil entah tidak, saya yakin anda pernah melakukannya. Bagi saya, analisis SWOT dapat diaplikasikan dalam segala hal, entah anda pendakwah yang ingin mempertebal kadar keimanan umat, entah anda adalah seorang pedagang kelontong, bahkan analisis ini dapat diaplikasikan dalam kehidupan anda sebagai pelajar.

Taruhlah anda adalah seorang pelajar yang masih bingung dalam penentuan jurusan apa yang akan diambil. Tentukan kekuatan anda dulu, di jurusan apa anda memiliki ketangguhan. Gunakan logika anda secara objektif. Setelah anda temukan kekuatan macam apa yang anda miliki, pikirkan letak kelemahan anda, perbaiki dan berusaha bahwa kelemahan itu tidak mengganggu perjalanan anda nantinya. Setelah anda memahami diri anda sendiri, baik sisi positif maupun negatifnya, sekarang lihatlah dunia luar, temukan peluang yang ada. Untuk menentukan jurusan apa yang akan ada pilih, cari tahu melalui pihak yang berwenang, tanyakan berapa quota yang digunakan, Jika sudah ada proyeksi perkiraan jurusan mana anda akan ditempatkan nanti, tanyakan pada pemilik wewenang, apakah memang benar anda layak ditempatkan di sana. Setelah semuanya sudah anda tempuh, hal terakhir yang harus anda lakukan dalam metode analisis ini adalah mencari tahu ancaman. Memang ancaman biasanya datang dari luar, akan tetapi, kelemahan (weakness) kadang dapat pula menjadi ancaman bagi anda. Lihatlah kondisi sekitar, apakah ada ancaman dalam penentuan keputusan anda. Entah itu ancaman yang akan mempersulit langkah anda, membuat anda jadi berpaling dari tujuan anda sebelumnya yang nanti pada akhirnya akan membuat anda keluar dari jalur yang telah ditentukan di dunia pendidikan.

Buat diri anda yakin dengan semua yang anda yakini adalah segala sesuatu yang dapat anda lakukan. Buat komitmen dalam diri, tentukan tujuan, tentukan target yang ingin anda raih dan berusahalah untuk meningkatkan target menuju arah yang progress. Saya yakin, semua usaha anda, disertai dengan doa anda kepada Tuhan, akan membuat anda menjadi seseorang yang cepat dalam mengambil keputusan dan berkepribadian…

Surat Untuk Kawan-Kawan di SMA N 7 Yogyakarta

Dengar kawan-kawan… Saya menulis ini ketika hari-hari saya mulai tidak nyaman mendengarkan keluhan dari beberapa kawan kalian yang lain. Entah itu—hanya rumor–kinerja ayah kalian yang tidak menyenangkan, entah itu ada onak dalam daging yang meresahkan kalian, serta ayah ibu kalian yang lain yang seolah-olah tidak memperdulikan kalian lagi… Baru beberapa saat yang lalu, ada satu sapuan rasa sakit dalam hati saya.

Ada hal-hal yang saya pikirkan, selama ini, saya memang bersedia menemani kalian, bukan untuk mendapatkan sebuah kalimat “wow, Syatibi sang pendengar yang baik” atau tendensi lain yang serupa, melainkan ada beberapa alasan saya melakukannya.

Dulu, saya adalah salah seorang siswa SMA 7 yang berantakan, tidak taat pada peraturan sekolah dan kadang ngeyel dengan ayah dan ibu di sekolah. Saya adalah salah satu siswa bermasalah, karena saat itu, saya sedang mencari kompensasi dari semua masalah saya. Kawan, saat itu saya melewati semuanya sendirian, antara rasa patah hati, gejolak jiwa muda yang menyusahkan, yang membuat saya tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan ingin jadi apa nantinya… Benar-benar saya melewatinya sendirian sampai akhirnya saya bertemu dengan beberapa orang berharga dalam hidup saya, Ibu Baniyah yang saya hormati dan saya sayangi, serta Muhammad Hamid yang selalu memberi saya support serta semua ayah dan ibu di SMA 7—terima kasih buat mereka–.Dalam bimbingan mereka, hati saya lebih nyaman dan merasa berharga di SMA 7… Sekarang, kalian lihat saya sedang bersama kalian, dan saya hanya ingin, kalian tidak sendirian dalam menghadapi semuanya. Saya tidak ingin kalian seperti saya di masa lalu, sendirian dan tidak tahu apa yang harus dilakukan…

Ini bukanlah sebuah kalimat kesombongan saya, melainkan ini adalah kalimat pengakuan saya yang lemah. Bukan berarti saya ingin mencampuri masalah keluarga kalian. Dalam sebuah keluarga, semua diharapkan dapat berjalan sebagaimana mestinya dan sesuai kapasitasnya masing-masing. Ayah yang bekerja keras untuk menghidupi keluarga, Ibu yang mengurusi rumah tangga, PRT yang ikut membantu ibu, dan kalian, tugas kalian adalah belajar dan berkreasi. Ketika kalian merasa bahwa ayah dan ibu sedang bertengkar, kalian harus mencoba memahami kesulitan mereka, bukannya berusaha memperumit keadaan dengan mencoba untuk menyakiti orang tua kalian, atau melarikan diri dari rumah atau merusak perabot rumah atau tindakan lain yang merugikan keluarga kalian sendiri.

Cobalah untuk memahami kesulitan ayah kalian, cobalah usap air mata ibu kalian meskipun kalian sedang terluka sekalipun. Bertukar-pikiranlah dengan mereka, katakan bahwa kalian masih ingin disayang, masih ingin mendapatkan perhatian dari ayah ibu kalian, dan katakan bahwa kalian juga sedang mengalami masa-masa sulit. Mungkin ada saatnya kalian harus mencoba berbagi dan mencoba bangkit dari masa sulit ini dengan semua anggota keluarga kalian yang lain. Percayalah bahwa ayah dan ibu juga sedang mencoba berbuat yang terbaik bagi mereka sendiri dan tentunya bagi kalian serta mereka juga tidak pernah secuilpun memiliki niat untuk membuat kalian menangis. Tunjukkan bahwa kalian adalah orang terpelajar dan bermartabat, dengan membicarakan semua kesulitan ini dengan kepala dingin.

Ini adalah permintaan maaf saya, saya tahu kalian tidak akan mengerti hal-hal semacam ini jika saya sampaikan langsung kepada kalian. Saya khawatir, saya sudah membayangkan kalian sebagai sosok yang kasar dan tidak terarah. Namuh sekarang, saya sedang memandangi kalian, terbaring letih pada sebuah onggokan jerami yang kotor pada sebuah sudut rumah kalian yang penuh sampah. Tidak tega saya melihat kondisi ironi semacam itu. Saya hanya ingin kalian beristirahat di tempat yang nyaman serta dapat menikmati segarnya udara yang tidak pengap. Maafkan saya kawan-kawan, saya sudah meminta terlalu banyak, sungguh terlalu banyak, maafkan saya…

Entah Diberi Judul Apa

*Lloyd: Saya sudah kehilangan beberapa teman saya..

Syatibi: Mengapa demikian?

Lloyd: Karena sekarang mereka bersama The Teacher, teman baru mereka..

Syatibi: Mengapa kamu kehilangan?

Lloyd: Karena The Teacher mengajarkan tentang minum miras dan entah apa lagi saya tidak tahu sampai-sampai mereka meninggalkan saya dan teman-teman yang lain…

Syatibi: Rawatlah baik-baik temanmu yang masih bersamamu…

LLoyd: Iya, saya masih punya yang lain, semoga teman-teman yang meninggalkan kami lekas sadar dan kembali kepada kami….

(*Lloyd saya gunakan untuk mengganti nama asli si pencerita)

“Pada kalimat di atas, semuanya saya coret karena Lloyd merasa tidak pernah membicarakan hal tersebut dengan saya. Hal ini saya lakukan karena kemarin, 19 Mei 2009 Lloyd menemui saya dan menyangkal semua tulisan saya di atas. Saya ucapkan permintaan maaf saya, karena memang saya terlalu tua untuk mengingat percakapan saya sekitar seminggu yang lalu.

Terlepas dari konteks saya dan Lloyd, pada dialog di atas, mungkin terjadi di setiap komunitas, di dalam setiap persahabatan. Ketika datang seseorang yang membawa hal ‘baru’, beberapa orang dari sebuah komunitas, pasti akan terkesima dan mengikuti sang pembawa hal ‘baru’.

Ini terjadi di depan mata saya sendiri. Betapa hebatnya The Teacher mengajarkan kepada mereka teknik-teknik berkelahi, kemudian memperkenalkan kepada mereka tentang beberapa minuman keras berlabel impor. Dia ajarkan bahwa adalah sebuah prestis jika mereka meminum minuman keras tersebut. Dia ajarkan juga tentang cara berdiplomasi yang menurut pandangan teman-teman saya yang lain, diplomasi ala preman.

“Kalimat di atas saya coret karena The teacher mengonfirmasi kepada saya pada kesempatan yang sama dengan Lloyd, beliau menyatakan bahwa semua yang saya ceritakan di sini adalah tidak benar adanya. Kalau boleh saya mengutip kalimat beliau,”Saya minum kalau anak-anak yang mengajak saya, saya mabuk kalau anak-anak yang mengajak saya..”–semoga tidak ada ralat lagi disini–

Ini adalah sebuah usaha saya yang lemah, ketika saya mulai merasa kehilangan teman-teman saya. Seperti Lloyd, tak ada lagi yang dapat saya lakukan, The Teacher terlalu kuat dalam meraih hati mereka, dia tahu betul gejolak anak muda dan dia juga yang mencukupinya. Sedangkan saya, saya hanya ajarkan kepada mereka tentang kontrol diri, tentang menahan amarah, tentang open mind, dan tentang bagaimana mengekspresikan kehendak dalam hati dengan cara-cara positif. Saya kenalkan kepada mereka fotografi, saya kenalkan kepada mereka tentang menulis dan dunia blogging. Bagi sebagian dari mereka, adalah sebuah hal yang menyakitkan menahan dan meredam semua rasa yang bergejolak. Saya benar-benar lemah, bahkan mengatakan kepada mereka tentang Islam menentang khamr pun saya tidak mampu. Sepertinya Tuhan pun belum menunjukkan jalan kepada saya bagaimanan cara menyadarkan mereka. Ini adalah sebuah tulisan yang saya tulis dalam sisa-sisa harapan saya, antara rasa kehilangan teman dan rasa benci saya yang mendalam kepada orang yang menyesatkan teman-teman saya.

Teman-teman, maafkan saya, saya tinggalkan kalian bersama kebahagiaan kalian, yang bagi saya adalah sebuah kebahagiaan semu. Bukan berarti saya tidak peduli dengan kalian, namun ini adalah salah satu cara saya melihat kalian bahagia. Seandainya kalian merasa itu adalah kebahagiaan kalian yang sebenarnya, saya ucapkan selamat berbahagia kepada kalian. Namun seandainya kalian ingin menikmati kebagaiaan yang lebih dari sekedar khamr dan dunia malam, saya masih menunggu kalian….

Jadilah Teman Yang Baik

“Beberapa hari yang lalu saya berbincang-bincang dengan bocahmiring dan bernadsatriani. Ada hal kecil yang kami bahas bersama teman-teman yang lain. Sebut saja Mr. Blackdot, dia adalah anak yang cerdas, memahami dunia maya hampir secara utuh, namun ada satu hal yang dia lupakan, tentang sosial diri dan berbaur secara wajar dengan teman sebayanya.”

Secara wajar, saya tidak memilih kedua kata tersebut secara sembarangan. Ada hal yang saya jadikan alasan mengapa saya menggunakannya. Suatu ketika, Mr. Blackdot sedang berbincang dengan beberapa orang temannya, dalam situasi canda, beberapa anak membincangkan betapa kaya rayanya Oprah, setiap orang yang meminta sesuatu padanya, pasti dia berikan. Dalam suasana segar itu, setelah puas memuji Oprah, Mr. Blackdot menyela dan mengatakan bahwa Google-lah yang paling kaya, dalam waktu beberapa jam saja bisa menghasilkan berapa banyak Dollar. Mr. Blackdot menjelaskan semuanya secara bla.. bla.. bla.. Terlolong-lolong anak-anak SMA yang sedang bercanda itu. Kemudian dengan gaya bla.. bla.. bla.. lagi, Mr. Blackdot bercerita tentang dunia maya yang bla.. bla.. bla.. pula. Tambah berantakan situasi yang terjadi. Pembaca dapat membayangkan, suasana yang segar tiba-tiba berubah mencekam—lebaynya—hanya gara-gara dimasuki satu orang yang tidak paham konteks pembicaraan.”

Saya informasikan juga, bahwa kehidupan Mr. Blackdot adalah kehidupan yang sempit, dia hanya punya dunia maya yang tidak jelas ada di mana. Gaya bicaranya—secara pribadi—sengak dan tidak menyenangkan, dia berpikir bahwa kebenaran ada pada dirinya dan dalam kamusnya, tidak ada kata maaf meskipun dia bersalah sekalipun. Bisa jadi, postingan saya ini nantinya juga akan mendapat sanggahan dari Mr. Blackdot—seandainya dia bodoh–

Akan tetapi, bukan itu yang ingin saya sampaikan di sini. Saya hanya ingin pembaca tidak mengalami apa yang dialami teman-teman Mr. Blackdot, bingung dalam konteks pembicaraan yang tidak sejalan. Dalam kasus di atas, sebenarnya yang terjadi adalah konflik antusiasme, sekelompok anak membicarakan hal yang berbeda dengan satu anak yang lain. Satu orang ini, saya yakin agak kesulitan mencari kawan yang bisa mengikuti pemahamannya karena dia berpikir dengan logika dunianya dan dia sendiri tidak fleksibel dalam pergaulan.

Sebenarnya dalam mencari kawan, ada hal mudah yang dapat kita lakukan, sapalah dia dengan antusias dan bersemangat. Taruhlah ketika ada orang yang menelepon dan mengatakan halo, gunakan psikologi yang sama, katakan juga halo dan pastikan bahwa anda benar-benar tertarik dengan apa yang dia bicarakan. Banyak perusahaan yang melatih operatornya hanya untuk berbicara dengan penuh rasa antusiasme dan menyiratkan minat kepada penelepon. Tentu saja hal ini dilakukan dengan tujuan supaya orang yang berkepentingan dengan perusahaan dapat merasa dihargai dalam perusahaan itu.

Mungkin ada pembaca yang bertanya, mengapa kita harus antusias dengan hal yang—bisa jadi—kita tidak tertarik padanya? Memang dalam hidup seperti itu, ketika komunikasi dalam sebuah hubungan, ada hal-hal yang harus diperhatikan, yaitu minat kita secara berkesinambungan, bukan mempertahankan ketidaksukaan kita kepada satu materi pembicaraan. Seandainya anda punya sahabat, dan ada satu meteri pembicaraan yang tidak anda sukai darinya, maka dengarkanlah dan perhatikan baik-baik, beri tanggapan dan katakana padanya,”Aku mendengarkanmu…”

Pastikan, bahwa anda memiliki ketertarikan dengan materi pembicaraan kawan bicara anda, beri tanggapan, beri wawasan dan berikan solusi jika seandainya dia memang memerlukannya, saya yakin, dari ketulusan anda itu, anda akan menjadi orang yang memiliki banyak relasi….

Kehilangan Satu Pelanggan, Bersiaplah Bangkrut

Ini judul bukan judul yang lebay. Ini merupakan judul yang benar-benar faktual.. Bagi anda, seorang manajer dalam hal apapun, entah manajer warung kecil, toko kelontong, maupun manajer sebuah perusahaan besar sekalipun, saya punya sedikit bahan renungan bagi anda.

Perhatikan tulisan saya ini. Di sana ada beberapa alasan mengapa seseorang dapat menjadi ‘pengkhianat’ dari usaha anda. Entah itu pelayanan anda yang tiba-tiba memburuk padahal sebelumnya sangat prima, entah karena anda menentukan kebijakan dan tidak ada pemberitahuan sebelumnya padahal kebijakan itu sangat berpengaruh kepada pelanggan.

Seorang pelanggan, yang sudah berlangganan tetap kepada anda, dia pasti telah memiliki alasan khusus mengapa dia berlangganan kepada anda. Entah senyum anda, entah sapaan anda yang ramah, apapun itu yang membuat pelanggan anda selalu kembali kepada anda. Rawatlah pelanggan yang demikian, buat mereka merasa di-raja-kan karena memang prinsipnya customer is a king dan itulah memang yang harus dapat anda praktikkan.

Sekarang, ini adalah pengalaman pribadi saya, saya adalah seorang pelanggan setia warnet dengan koneksi tercepat di Wates, Kulon Progo. Sudah sekian lama saya berlangganan di sana. Namun, sekali saja sang manajer melakukan sebuah kesalahan–dan bagi saya itu sangat fatal–saya akan berpindah ke lain warnet. Ini sekarang yang terjadi.

Bagi anda, praktisi marketing management, saya yakin anda tahu betul arti dari personal selling. Informasi yang disampaikan sangat informatif dan kredibel. Ini yang sedang saya lakukan terhadap warnet yang mengecewakan saya. Kepada siapapun, saya informasikan kepada mereka, bahwa warnet tersebut adalah warnet dengan koneksi tercepat namun pelayanannya sangat mengecewakan. Tentu saja,itu akan mematikan pasaran meskipun saya tidak ada niat untuk itu. Pembaca mungkin heran, apakah keluhan saya tidak disampaikan langsung kepada manajer? Anda tidak usah heran, manajer sudah saya temui dan saya ajak bicara, akan tetapi, esoknya, pelayanan malah semakin buruk dan semua karyawan memusuhi saya. Sebenarnya masalahnya hanya sepele, ada seorang karyawan yang bercanda kepada saya, namun tidak pas dengan waktunya.

“Sudah jam 9 malam, sana pulang, nanti dicari orang tuamu..”

“Biarkan itu jadi masalah saya, kamu tidak usah memikirkannya” jawab saya kepada salah seorang yang “mengusir” saya.

Itu adalah kalimat yang menyakitkan bagi seorang pelanggan tetap seperti saya. Betapa tidak, semua imaji saya, citra saya tentang tempat itu, yang dulunya sangat memuaskan saya tiba-tiba hancur hanya karena sebuah kalimat bermakna pengusiran.

Sekarang, bayangkan saja jika saya adalah satu dari sepuluh orang yang diperlakukan demikian, dan sembilan orang yang lain juga melakukan hal yang serupa seperti saya. Apakah anda masih yakin, usaha anda akan tetap laris?

akhirnya jadi juga… terima kasih buat hamid sehingga blog saya punya alamat sendiri…

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes